Pages

Minggu, 28 Agustus 2016

Kegigihan Sang Pengayuh Becak

           Universitas Airlangga merupakan wadah bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, Universitas Airlangga merupakan Universitas terbaik ke 4 se-Indonesia dalam penilaian yang dilakukan Webometrics. Banyak sekali para pelajar lulusan menengah atas maupun kejuruan yang bersaing memperebutkan untuk menjadi bagian dari Universitas Airlangga , salah satunya yaitu diriku sendiri, singkat cerita perkenalkan namaku Ade Risma salah satu Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga tahun 2016 yang diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di kampus tercinta melalui jalur Undangan tersebut. Rasa bangga yang amat luar biasa aku rasakan menjadi bagian dari Universitas Airlangga tidak menjadikanku apatis terhadap lingkungan sekitar. 
             Sore hari pukul 17.00 WIB kegiatan Ospek Fakultas telah usai dilaksanakan dihari itu, dengan menunggu adzan magrib aku duduk di teras masjid Nuruzzaman Kampus B UNAIR, aku melihat seorang bapak tua yang sedang duduk merenung di atas Becak dengan wajah yang penuh kelelahan. Sengaja aku menghampiri bapak tua tersebut dan mulai pembicaraan dengan beliau, karena rasa penasaranku terhadap beliau. Namanya Pak Imam dengan pekerjaan sehari-harinya adalah mengayuh becak, mencari penumpang kesana kemari dengan gigihnya. Dijaman yang serba canggih saat ini, tidak dipungkiri lagi bahwa Becak sudah tersingkirkan oleh angkutan yang berbasis online, tetapi yang membuatku heran adalah semangatnya beliau yang tinggi untuk mencari Nafkah untuk keluarganya yang ada di Desa tersebut. Pak Imam menggeluti profesi sebagai pengayuh becak sudah bertahun-tahun, dengan umurnya yang lebih dari setengah abad ini pak Imam tetap semangat mengayuh becaknya, mencari penumpang dari stasiun Gubeng Surabaya hingga beliau pernah mengantar orang ke terminal bungurasih dengan jarak yang cukup jauh bagi pengayuh becak, sungguh semangat yang luar biasa yang bapak Imam tunjukkan kepadaku. Sebagai Warga Penduduk Indonesia, tentunya pak Imam juga memiliki keinginan yang besar kepada para penerus generasi bangsa seperti ku untuk bisa menjadi penerus bangsa yang jujur dan amanah, “karena merebut kemerdekaan di tangan penjajah tidaklah gampang, banyak rintangan dan banyak darah bercucuran “ ucap beliau kepadaku. Setelah lama obrolanku dengan pak imam adzan magrib pun berkumandang, dengan badannya yang mulai rapuh termakan usia bapak Imam berjalan menuju tempat wudhu masjid Nuruzzaman dengan sangat pelan. Sungguh pak Imam memberikan banyak pelajaran yang luar biasa ku dapatkan dengan sosok tua yang menginspirasiku. #sejutasenyumairlangga#Amerta2016 #BanggaUNAIR #SosproUNAIR2016